PULAU RIMAU JADI PERHATIAN TIM SATGAS MABES TNI CEGAH KARHUTLA
BANYUASIN, Lensainnews.com – PULAU RIMAU, RB* – Satgas Karhutla Mabes TNI turun langsung ke Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Rabu (9/9/2026), untuk memberikan penyuluhan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kewaspadaan masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi karhutla, khususnya di tengah kondisi kemarau. Selain memberikan edukasi, Satgas juga mendengarkan berbagai masukan terkait kendala yang dihadapi di lapangan.
Penyuluhan diikuti unsur pemerintah kecamatan, TNI-Polri, pemerintah desa, perusahaan, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga Tim Karlabun.
Satgas Karhutla Mabes TNI dipimpin **Brigjen TNI Frans Surya Ginting, S.Sos., M.A.P.** Turut dalam rombongan di antaranya Kolonel Laut Agus Wahyu Nugraha, Kolonel Laut Abdurrohman, Kolonel Laut Dadan, Kolonel Sus Suparman, dan Kolonel Adm Dodi Harjon.
Tim juga didampingi jajaran Kodim 0430/Banyuasin, yakni **Letkol Inf Saibudin** serta Danramil 430-01/Pangkalan Balai **Kapten Inf Erwin Suhaimi**.
Kegiatan tersebut dihadiri Camat Pulau Rimau **Sumito, S.H., M.Si.**, Kapolsek Pulau Rimau **AKP Masrul Sumaryoto**, sejumlah pimpinan perusahaan, para kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) se-Kecamatan Pulau Rimau, serta unsur pelayanan kesehatan dan masyarakat.
Di antaranya Kepala Desa Teluk Betung, Ketua Forum sekaligus Kepala Desa Tabuan Asri Hasim, Kepala Desa Mukut Agus Tri Haryanto, Kepala Desa Wana Mukti Purwanto, S.IP., M.Si., Kepala UPTD Bapenda Kecamatan Pulau Rimau, Kepala UPTD Puskesmas Teluk Betung, Kepala UPTD Puskesmas Dana Mulya, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan Tim Karlabun.
### CEGAH KARHUTLA SEJAK DINI
Brigjen TNI Frans Surya Ginting mengatakan, keberadaan Satgas Karhutla Mabes TNI di berbagai daerah merupakan bentuk kepedulian pemerintah pusat dalam mencegah sekaligus menanggulangi karhutla.
Menurutnya, tim diturunkan ke sejumlah provinsi yang terdampak karhutla sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto. Kehadiran Satgas juga bertujuan menyamakan visi dan persepsi seluruh pihak agar upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini.
“Ini bentuk kepedulian pemerintah pusat untuk menyamakan visi dan persepsi agar kita bersama-sama menghindari kebakaran hutan dan lahan,” ujar Frans.
Ia menjelaskan, potensi karhutla biasanya meningkat ketika terjadi kemarau panjang. Karena itu, seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan.
“Kalau kemarau panjang, biasanya terjadi kebakaran. Mari kita jaga ke depannya agar tidak terulang kembali,” tegasnya.
Dampak karhutla, lanjut Frans, tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah terdampak. Asap akibat kebakaran juga dapat menyebar ke wilayah lain bahkan hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Frans menyebut terdapat dua faktor utama penyebab kebakaran, yakni faktor alam dan ulah manusia. Namun, dalam banyak kasus, aktivitas manusia menjadi penyebab dominan, terutama pembakaran yang dilakukan secara sengaja untuk membuka lahan pertanian maupun perkebunan.
“Penyebab api ada dua, pertama ulah manusia, baik perorangan maupun perusahaan, dan kedua faktor alam. Yang dominan adalah ulah manusia yang sengaja membakar untuk membuka lahan pertanian,” bebernya.
Ia mengingatkan masyarakat maupun perusahaan agar tidak mengambil jalan pintas dengan cara membakar lahan. Aparat juga telah melakukan penindakan terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran.
“Sudah banyak tersangka yang ditangkap,” tegas Frans.
### PEMERINTAH KECAMATAN AKAN PERKUAT PENGAWASAN
Sementara itu, Camat Pulau Rimau **Sumito, S.H., M.Si.**, mengatakan pemerintah kecamatan bersama seluruh unsur terkait terus berupaya mencegah terjadinya karhutla.
Sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan, khususnya terkait larangan membuka kebun dan lahan dengan cara membakar.
“Kita sama-sama harus menjaga pembukaan kebun dan lahan dengan tidak melakukan pembakaran,” terang Sumito.
Meski demikian, ia mengakui masih terjadi kebakaran di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah kecamatan untuk terus meningkatkan upaya pencegahan dan pengawasan.
“Masih terjadi kebakaran, kami kecolongan. Namun, kami tidak diam,” sambungnya.
Sumito berharap para kepala desa dapat lebih aktif memberikan informasi kepada pemerintah kecamatan apabila menemukan potensi maupun indikasi terjadinya karhutla di wilayah masing-masing.
Menurutnya, pencegahan sejak dini sangat penting karena dampak kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat.
“Asap sangat mengganggu pernapasan kita, terutama anak-anak,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Pulau Rimau untuk semakin aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya dan dampak pembakaran lahan.
“Kami mengajak Forkopimcam aktif mensosialisasikan dampak bakar-membakar dalam pembukaan lahan,” pungkasnya.
(Mulyadi)






