Pendidikan Berbasis Budaya Perlu Disederhanakan Dan Aplikatif Bagi Anak.
Yogyakarta, lensainnews.com-Pendidikan berbasis budaya yang dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman,namun perlu kedekatan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak penekanan ini disampaikan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam.X saat menerima silahturahmi Pusat Pengembangan Diri & Komunitas (PPDK) Kemuning Kembar Parama Witatama di Gedhong Pare Anom,Kompleks Kepatihan,selasa (21/4/2026).
Sri Paduka menyebut DIY memiliki kekayaan nilai budaya yang dapat menjadi pondasi kuat dalam pendidikan karakter,menurutnya pendekatan pendidikan tidak harus selalu bertumpu pada teori baru,karena nilai-nilai lokal seperti Tut Wuri Handayani telah lama menjadi pijakan yang relevan.
Kita tidak perlu mencari teori kemana-mana kita sudah punya dasar yang kuat dari budaya kita sendiri,ungkapnya.
Namun demikian Sri Paduka menekankan pentingnya penyesuaian metode agar sesuai dengan dunia anak,anak-anak menurutnya bukanlah miniatur orang dewasa sehingga pembelajaran harus lebih sederhana dan kontektual.
Perlu ada penyederhanaan pola pikir terhadap apa yang ingin disasar,supaya mudah diterima dan menjadikan anak sebagai subyek,yang terpenting harus aplikatif,tegasnya.
Wagub DIY juga menyoroti proses belajar tidak selalu harus dalam bentuk,pengajaran langsung dalam tradisi jawa,nilai-nilai kehidupan justru banyak disampaikan melalui media seperti wayang,tembang,dan cerita rakyat,orang jawa itu menemukan cara belajar tanpa menggurui,anak-anak itu melihat percaya,mereka belajar dari apa yang dilihat dan dirasakan,imbuhnya.
Lebih jauh lagi,Sri Paduka mengingatkan pentingnya peran lingkungan,khususnya keluarga,dalam membentuk karakter anak,lingkungan yang tidak sehat,termasuk pola pengasuhan yang kurang tepat,padat terdampak pada menurutnya kepercayaan diri dan semangat juang generasi muda,ia juga mengisyaratkan peningkatan keresahan terkait,kesehatan mental anak dan remaja yang perlu menjadi perhatian sesama.
Sementara itu Pimpinan PPDK Kemuning Kembar Parama Witatama,Indria Laksmi Gamayanti,menyampaikan akan menggelar Sarasehan Nasional Resiliensi berbasis budaya pada 2-3 mei mendatang di Taman Budaya Embung Giwangan,forum ini mengingat tema kesehatan mental pendidikan dan bembentukan karakter sebagai respon atas berbagai persoalan yang kininmengemuka.
Menurut Gamayanti,selama ini masyarakat sering lupa bahwa Indonesia memiliki nergam model pendidikan dan pengasuhan berbasis tradisi yang telah diwariskan turun menurun.
Melalui sarasehan ini kami ingin menggali kembali praktik-praktik tersebut,sekaligus mengkajinya dari perspektif psikologi perkembangan anak,khususnya dalam membangun ketahanan mental,jelasnya.
Pihaknya berharap forum ini dapat melahirkan langkah-langkah konkret agar nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami,tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,pesan dari Pak Wagub sangat jelas,bagaimana nilai-nilai ini bisa diterapkan secara nyata di masyarakat,ini menjadi poin penting yang perlu ditndak lanjuti bersama,pungkasnya.”






